skip to Main Content
Ketepatan Dalam Kemarahan

Aristoteles pernah berkata bahwa “Siapapun bisa marah. Marah itu mudah. Tetapi, marah pada orang yang tepat, dengan kadar yang sesuai, pada waktu yang tepat, demi tujuan yang benar, dan dengan cara yg baik, bukanlah hal mudah.”

Kutipan dari Aristoteles diatas menggambarkan bahwa marah tidak selalu merupakan hal yang negatif. Kita boleh saja marah selama kemarahan kita tadi memiliki tujuan yang tepat. Kita boleh saja marah bila momen marah tersebut dimunculkan di waktu yang tepat. Pertanyaannya, kapankan momen marah itu menjadi tepat?

Dalam beberapa kondisi dan situasi, akan selalu ada hal-hal yang membuat kita merasakan amarah. Biasanya emosi atau amarah ini muncul ketika kita melihat atau merasakan sesuatu yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan. Semakin besar gap atau kesenjangan antara harapan dengan kenyataan yang kita rasakan, maka kemungkinan orang untuk marah akan semakin besar. Tentunya, hal ini tidak berlaku pada orang-orang yang sudah memiliki pengendalian diri cukup baik.

Namun pernahkah kita melakukan review apakah amarah yang kita keluarkan itu sudah tepat? Atau apakah kemarahan yang kita keluarkan ternyata tidak tepat? Bagaimana indicator benar atau salah dari kemarahan yang kita lakukan?

Sesungguhnya kemarahan adalah mekanisme perlindungan diri yang dirancang untuk memperingatkan pengganggu untuk menghentikan perilaku mengancam mereka terhadap diri kita. Itu sebabnya pada dasarnya perilaku marah kita dapat juga dianggap sebagai hal positif bagi diri kita sendiri. Namun yang menjadi kurang tepat adalah ketika kemarahan yang kita keluarkan membuat kita tidak memikirkan situasi dan kondisi di lingkungan yang akhirnya justru menimbulkan ketidaknyamanan bagi orang lain disekitar kita.

Kemarahan yang kita keluarkan harus demi kebaikan orang lain disekitar kita dalam jangka pendek maupun panjang. Karena marah itu sebenarnya bersifat netral. Baik atau buruknya marah itu sendiri sebenarnya sangat ditentukan dengan waktu dan konteks kemarahan yang kita keluarkan.

Setiap kemarahan yang kita keluarkan seharusnya bukan menjadi ajang melampiaskan kekesalan sesaat, melainkan agar kemarahan tersebut menjadi pembelajaran yang positif bagi lingkungan sekitar kita

Jadi, yuk belajar menyikapi kemarahan dengan tepat.

This Post Has One Comment
  1. Salami prosciutto sirloin t-bone tri-tip alcatra, biltong swine landjaeger pork loin pork chop andouille jowl tenderloin ribeye. Tri-tip sausage strip steak doner corned beef pork loin flank t-bone.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top
×Close search
Search